Kami mengintegrasikan filosofi Total Productive Maintenance (TPM) yang teruji, dengan kekuatan Computerized Maintenance Management System (CMMS) yang cerdas. Untuk membuka potensi penuh aset industri Anda.
Berhenti hanya memperbaiki, saatnya mulai mengoptimalkan.
Setiap downtime adalah kerugian.
Setiap produk cacat adalah biaya.
Kami memahami tantangan yang menghambat pertumbuhan Anda.
TPM adalah pendekatan holistik yang bertujuan mencapai "produksi sempurna" tanpa breakdown, cacat, dan kecelakaan. Kuncinya adalah pergeseran budaya: dari "tim pemeliharaan memperbaiki" menjadi "semua orang bertanggung jawab".
Konsep: Memberdayakan operator produksi untuk melakukan pemeliharaan dasar (pembersihan, inspeksi, pelumasan).
Tujuan: Mendeteksi masalah dini, mencegah kerusakan, dan menumbuhkan rasa kepemilikan operator.
Contoh: Operator mengisi checklist harian via tablet, memeriksa level oli, dan melaporkan getaran aneh.
Konsep: Menjadwalkan aktivitas pemeliharaan berdasarkan data historis dan prediksi, beralih dari reaktif ke proaktif.
Tujuan: Mengurangi downtime tak terduga dan memaksimalkan umur komponen mesin.
Contoh: Mengganti bearing setiap 2.000 jam operasi, bukan menunggu sampai rusak.
Konsep: Fokus pada pengaturan mesin untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas (zero defect).
Tujuan: Menghilangkan akar masalah pada mesin yang menyebabkan cacat pada produk.
Contoh: Menganalisis kondisi mesin (suhu, tekanan) yang menghasilkan cacat, lalu membuat standar untuk menjaganya.
Konsep: Membentuk tim kecil lintas fungsi untuk menganalisis masalah kronis dan mencari solusi inovatif.
Tujuan: Secara bertahap menghilangkan kerugian di area produksi (downtime, setup lama, dll).
Contoh: Tim Kaizen berhasil mengurangi waktu changeover dari 1 jam menjadi 15 menit.
Konsep: Menggunakan data dari mesin lama untuk merancang & membeli mesin baru yang lebih andal dan mudah dirawat.
Tujuan: Mencapai performa puncak lebih cepat dan mengurangi biaya siklus hidup peralatan baru.
Konsep: Memberikan pelatihan yang tepat kepada semua level karyawan untuk meningkatkan keterampilan yang relevan dengan TPM.
Tujuan: Memastikan semua orang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menjalankan perannya.
Konsep: Mengintegrasikan praktik keselamatan dan kepedulian lingkungan ke dalam semua aktivitas.
Tujuan: Menciptakan lingkungan kerja yang aman (zero accidents) dan berkelanjutan.
Konsep: Menerapkan prinsip TPM (efisiensi, standarisasi) pada fungsi pendukung seperti logistik dan pengadaan.
Tujuan: Meningkatkan efisiensi proses administratif yang mendukung kelancaran produksi.
CMMS adalah software yang menjadi pusat data dan platform eksekusi untuk semua aktivitas pemeliharaan. Ini adalah sistem untuk mendigitalkan, mengotomatisasi, dan mengorganisir pekerjaan yang didorong oleh filosofi TPM.
Fungsi: Database terpusat untuk semua aset/mesin, berisi spesifikasi, lokasi, manual, dan riwayat pemeliharaan.
Manfaat: Memudahkan pencarian informasi, standarisasi data, dan pelacakan riwayat aset.
Fungsi: Mengelola seluruh siklus hidup perintah kerja (Work Order), dari pembuatan hingga penutupan.
Manfaat: Menjamin tidak ada pekerjaan terlewat, melacak progres real-time, dan mengumpulkan data penting.
Fungsi: Mengotomatisasi pembuatan Work Order untuk PM berdasarkan jadwal kalender atau meteran (jam operasi).
Manfaat: Memastikan PM tepat waktu, mengurangi beban administrasi, dan mencegah kegagalan.
Fungsi: Melacak ketersediaan, lokasi, dan penggunaan suku cadang dengan notifikasi stok.
Manfaat: Menghindari kehabisan stok, mengurangi stok berlebih, dan mempercepat perbaikan.
Fungsi: Mengumpulkan data (biaya, waktu kerja) dan menyajikannya dalam bentuk laporan dan dasbor.
Manfaat: Mengukur KPI (OEE, MTBF, MTTR), menganalisis tren, dan membuat keputusan berbasis data.
Di sinilah kekuatan sejati muncul. CMMS menyediakan infrastruktur digital untuk menjalankan pilar-pilar TPM secara efektif dan terukur.
checklist digital via tablet dan langsung membuat laporan temuan sederhana jika ada anomali.penjadwalan otomatis. Data riwayat MTBF dari CMMS digunakan untuk mengoptimalkan interval jadwal PM."kalibrasi gagal") dengan data batch produk yang cacat dari sistem lain.analisis Pareto) sebagai target tim Kaizen. Efektivitas perbaikan diukur dari data "Before-After" di CMMS.Lock-Out Tag-Out (LOTO) dapat dilampirkan secara digital pada setiap Work Order di CMMS.Memulai perjalanan TPM tanpa CMMS ibarat mencoba menavigasi kota besar tanpa peta; mungkin bisa, tetapi sangat tidak efisien dan sulit mengukur progres. Sebaliknya, mengimplementasikan CMMS tanpa filosofi TPM yang kuat hanya akan menjadi sistem pencatatan yang mahal. Keduanya, jika diimplementasikan bersama, menciptakan siklus perbaikan berkelanjutan yang didukung oleh data akurat, menghasilkan keunggulan operasional yang signifikan.
Diskusikan Implementasi Anda